RADAR PALU – Pelaksanaan Haul Guru Tua tahun ini kembali menjadi magnet spiritual bagi umat Islam, dengan ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati kawasan Alkhairaat.
Kegiatan yang berlangsung Selasa (31/3) penuh kekhusyukan dan menggambarkan kecintaan mendalam terhadap sosok ulama besar Habib Idrus bin Salim Aljufri.
Ketua Yayasan Masjid Alkhairaat Sis Aljufri, Habib Idrus Bin Ali Alhabsyi, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan haul telah disusun secara sistematis sejak sore hari hingga malam.
Acara diawali dengan pelaksanaan salat Asar berjamaah pada pukul 15.30 WITA di Masjid Alkhairaat, yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan serta pembahasan kitab-kitab salaf hingga menjelang waktu Magrib.
Menjelang senja, suasana semakin syahdu dengan lantunan syair-syair karya Habib Idrus bin Salim Aljufri yang menggema di tengah jamaah.
Setelah salat Magrib berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan khataman Al-Qur’an, sebelum memasuki pembacaan Maulid.
Rangkaian acara semakin khidmat dengan tausiah agama yang disampaikan oleh sejumlah ulama yang datang langsung dari Hadramaut.
Setelah doa Maulid dipanjatkan, jamaah kemudian melaksanakan salat Isya berjamaah sebagai penutup rangkaian ibadah utama.
Tidak hanya menjadi ajang ibadah, haul tahun ini juga menjadi momentum silaturahmi umat.
Setelah seluruh rangkaian selesai, para jamaah mengikuti makan malam bersama sebelum acara resmi ditutup.
Sementara itu, arus kedatangan jamaah terus meningkat hingga malam hari. Puncak peringatan Haul Guru Tua tahun ini direncanakan akan dihadiri oleh sejumlah menteri, menandakan besarnya perhatian pemerintah terhadap peran dan warisan dakwah Alkhairaat di Indonesia.
Ulama Besar dari Hadramaut yang Mengubah Wajah Pendidikan Islam di Indonesia Timur
Perlu diketahui bahwa, nama Habib Idrus bin Salim Aljufri atau yang akrab dikenal sebagai Guru Tua, kembali menjadi sorotan dalam momentum haul yang diperingati setiap tahunnya di Sulawesi Tengah.
Sosok ulama kharismatik ini dikenang luas sebagai pelopor pendidikan Islam modern di kawasan Indonesia Timur.
Lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, pada 15 Maret 1892, Guru Tua memulai perjalanan dakwahnya ke Indonesia pada 1929.
Setibanya di Nusantara, ia memilih Palu sebagai pusat pengabdian, wilayah yang kala itu masih terbatas akses pendidikan keagamaannya.
Di kota inilah, pada 1930, Guru Tua mendirikan lembaga pendidikan Alkhairaat.
Institusi ini berkembang pesat dan kini dikenal sebagai salah satu jaringan pendidikan Islam terbesar di Indonesia Timur, dengan ribuan madrasah dan sekolah yang tersebar di berbagai daerah.
Kontribusi Guru Tua tidak hanya terbatas pada pembangunan lembaga pendidikan. Ia juga dikenal sebagai sosok ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu, termasuk syariah dan sastra Islam.
Syair-syair yang ditulisnya menjadi bagian penting dalam metode dakwah yang menyentuh hati masyarakat.
Pengabdiannya yang total terhadap umat menjadikan Guru Tua dikenang sebagai “pahlawan pendidikan”.
Ia tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan peradaban masyarakat melalui pendidikan yang berkelanjutan.
Peran besar tersebut membuat namanya terus diabadikan, salah satunya melalui penamaan Bandara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri.
Bandara ini menjadi simbol penghormatan atas jasa-jasanya dalam membangun fondasi keilmuan dan keislaman di wilayah Sulawesi Tengah dan sekitarnya.
Wafat pada 22 Desember 1969 di Palu, warisan perjuangan Guru Tua tetap hidup hingga kini.
Melalui jaringan Alkhairaat dan jutaan murid yang tersebar di berbagai penjuru, nilai-nilai dakwah, pendidikan, dan pengabdian yang ia tanamkan terus menjadi inspirasi lintas generasi di Indonesia. ***
