04 February 2026
24.6 C
Palu

Heroik! Haji Joto Daeng Pawindu Usir Penjajah Belanda dan Jepang

Must read

-IKLAN-spot_img

SIGI-Heroisme perjuangan seorang putra Kaili melawan penjajah Belanda dan Jepang sudah terpatri di lembah Palu dan sekitarnya. Tak mau diremehkan oleh penjajah, dan sering ditagih pajak yang begitu tinggi kepada rakyat Palu, Haji Joto Dg Pawindu DS maju dan membentengi warga Palu agar jangan lagi membayar pajak kepada Belanda, dan sesudah itu kepada penjajah Jepang.

“ Jangan komiu bayar pajak le. Tinggi sekali pajak ini le, “ ucap Joto Dg Pawindu kepada masyarakat Palu, agar tidak membayar pajak kepada Belanda.

Melalui kontroleur Belanda saat itu, Haji Joto Dg Pawindu menjadi “tombak tajam” melawan feodalisme. Hingga berkali-kali Haji Joto Dg Pawindu DS dikejar dan ditangkap Kontroleur bersama opas. Haji Joto Dg Pawindu pernah ditawan dan diasingkan di Penjara Nusakambangan dan Sukamiskin di Jawa Barat. Hingga berkenalan akrab dengan Bung Karno, karena satu penjara, yang kemudian menjadi Presiden RI pertama..

Tapi, berhentikah Haji Joto melawan penjajah? Tidak! Sama sekali tidak. Sebagai saudagar, dan penyebar risallah agama Islam di lembah Palu, bahu membahu dengan sang ipar Guru Tua (SIS Aljufri), dan kawan-kawan seperjuangannya mereka berbagi tugas melawan penjajah, sang imperialis. Sambil berjuang melawan penjajah, Haji Joto Daeng Pawindu DS juga menyebarkan agama Islam hingga ke pelosok pedesaan.

Itulah mengapa Haji Joto Daeng Pawindu DS ini tinggal dan menetap di Desa Pewunu, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga akhir hayatnya? Selain melakukan aksi gerilya melawan penjajah, dua penjajah yakni Belanda dan Jepang, juga melakukan syiar Islam. Dia mendirikan Laskar Merah Putih, dan memimpin penyerangan kilat di lapangan Palu, sekarang Taman GOR untuk menyerang dan melakukan aksi unjukrasa terhadap pemerintah Belanda (kontroleur).

Haji Joto Dg Pawindulah orang yang pertama kali memimpin Sulawesi Tengah ini upacara bendera memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia, bertindak sebagai Inspektiur upacara, setelah Bung Karno memberitahukan informasi kemerdekaan Indonesia kepada sahabatnya ini, Haji Joto Dg Pawindu, dan instruksi itu dilaksanakan dengan ikhlas di Palu, Sulawesi Tengah.

Persahabatan antara Guru Tua dengan Haji Dg Pawindu sangat penting. Berduet mereka, bersama kawan-kawan seperjuangannya yang lain. Haji Joto kebagian melawan dengan perjuangan fisik, dan memberikan motivasi serta mental ideologi kepada masyarakat Palu saat itu. Sebagai pedagang, pedagang kopra dan ketua Koperasi Kopra, serta aktivis Partai Sarikat Islam (PSI), marhaenis sejati, teman Bung Karno (Presiden Pertama RI Soekarno), dan tokoh Islam.

Sedangkan Guru Tua mengembangkan pendidikan. Haji Joto lalu merestui adiknya Hajjah Ami, istri dari Guru Tua untuk mewakafkan tanah milik mereka ini kepada Guru Tua dan Yayasan Alhkhairaat tanah keluarga mereka, untuk menjadi lokasi dibangunnya sekolah dan madrasah Alkhairaat seperti yang kita lihat sekarang.

“ Haji Ami, kakaknya Haji Joto Dg Pawindu itu yang memberikan tanahnya kepada Alkhairaat, atau Guru Tua untuk dijadikan kawasan persekolahan, dan pesantren, “ ujar Zabir Dg Pawindu, putera Haji Joto Dg Pawindu kepada Radar Sulteng.

Kontribusi Haji Joto Dg Pawindu DS kepada negara sangat besar, hidup hingga wafatnya hanya membela negara tercinta Indonesia, membela rakyat kecil, dan masyarakat Palu saat itu di antara tahun 1920,1930,1940, dan tahun 1950-an. Perjuangan sebelum kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan.

Karena heroiknya kepahlawanan sosok Haji Joto Dg Pawindu DS ini, maka bertempat di balai Desa Pewunu Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), digelar forum group discusion (FGD) antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi yang diwakili oleh Kepala Bidang (Kabid) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sigi, LKP2D Sigi, dan tim akademisi Universitas Tadulako (Untad) bersama pihak keluarga besar Haji Joto Daeng Pawindu DS, untuk mendengarkan saran dan masukan dalam rangka memperjelas dan menambah informasi bagi proses penyusunan buku yang digagas oleh Pemkab Sigi, difasilitasi oleh SKP2D dan tim penulis dari akademisi Untad, di Balai Desa Pewunu, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Sabtu (03/06/2023).

Meskipun Haji Joto ini lahir di Kota Palu, tetapi Pemkab Sigi akan mengangkat kisah tokoh kharismatik dan pahlawan yang memimpin perlawanan melawan penjajah Belanda dan Jepang ini, dalam sebuah buku otobiografi yang akan disusun oleh tim akademik Untad, yakni Dr. Rizali Djaelangkara dan Dr. Rita Lapasere.

Kepala Desa (Kades) Pewunu, Ismet Zabir Dg Pawindu mempersilakan tim akademik untuk menambah informasinya secara langsung melalui FGD, dengan menghadirkan pihak keluarga dan yang mengenal dekat sosok Haji Joto yang dimassa kecilnya, yang dipanggil Haji Dolla.

“ Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi, memalalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Sigi, melalui bapak Kabid yang telah memprogramkan pada tahun anggaran 2023 ini akan melahirkan satu buku dalam bentuk program Cagar Budaya tak benda, yaitu penulisan otobiografi Haji Joto Daeng Pawindu, “ tutur Ismet dalam sambutannya di FGD yang digelar Sabtu kemarin.

Pada kesempatan memberikan keterangannya kemarin, Kabid Dikbud, menjelaskan, pihaknya akan membuat buku otobiografi Haji Joto Daeng Pawindu DS sebagai cagar budaya.

“ Kita akan bikin tiga buku perjuangan syiar Islam di Kabupaten Sigi. Karena itu, kami berharap kepada keluarga besar Haji Joto Daeang Pawindu DS bisa membuka semua profil ketokohan beliau ini, ” kata Kabid.

Sedangkan tim akademik Untad, Dr. Rita Lapasere, mengatakan, ada tim lapangan dalam rangka menyusun otobiografi Haji Joto Daeng Pawindu DS.

“Kami sudah cukup lama menyusun buku ini. Ada tim lapangan yang sudah mewawancarai narasumber-narasumber kunci yang berhubungan langsung dengan Haji Joto Daeng Pawindu DS, ” ungkap Rita.

Rizali Jaelangkara, anggota tim akademisi penyusun buku Joto Daeng Pawindu, menjelaskan, kehadiran mereka di FGD kali ini adalah mempertajam dan mempermantap data history dari sosok Haji Joto Dg Pawindu DS, dengan harapan seluruh hadirin di FGD ini bisa memberikan masukannya kepada tim penyusun.

“ Kami datang kesini menghadiri FGD ini untuk mendengarkan data atau informasi otentik tambahan dari pihak keluarga, atau dari mereka yang mengenal dekat sepak terjang dari Haji Joto Dg Pawindu. Ada sekitar 20-an pertanyaan yang kami ajukan kepada bapak ibu agar diberitahukan kepada kami. Sehingga buku yang kami tampilkan dan disuguhkan nanti cukup lengkap dan memenuhi apa yang dipersyaratkan dalam sebuah otobiografi, “ jelas Rizali.

Pada kesempatan itu, Rizali memaparkan, tujuan dibuatkan buku ini untuk mendapatkan cerita atau historis yang bisa dipercaya dalam penyusunan buku ini.

Saat digelarnya FGD kemarin, hadir pula unsur adat dan jajaran LKP2D Kabupaten Sigi. Saat itu, perwakilan LKP2D, mengatakan rencana pembuatan buku perjuangan kepahlawanan Haji Joto Dg Pawindu DS atas kerjasama LKP2D dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi.

“ Inilah program kita dari Pemkab Sigi, untuk mengangkat pahlawan dari Kabupaten Sigi, “ kata Sahlan dari LKP2D. ” Kami ucapkan terima kasih kepada Pemkab yang telah memelopori pembuatan buku ini, ” ujarnya lagi.

Sedangkan cucu Haji Joto Daeng Pawindu DS, yang hadir langsung di FGD antara lain Suplain Abd Muluk Dg Pawindu DS, Arhanm Siradjudin, Nirmala Zabir Dg Pawindu, Moh. Naze Haji Dg Pawindu, dan Kalsum Zabir Haji Dg Pawindu memberikan informasi tambahan yang dibutuhkan tim akademik.

Juga beberapa tokoh dari masyarakat Desa Pewunu yang mengenal dekat aktifitas dan sepak terjang, serta pendidikan yang dijalani oleh Haji Dg Pawindu massa itu.

Suplain berharap buku ini bisa segera diterbitkan. Demikian pula Arham Siradjudin, juga cucu dari Haji Joto Dg Pawindu DS, meminta agar buku ini segera disusun dan diterbitkan.

“ Yah kami sepakat agar buku otobiografi kakek kami ini Haji Joto Dg Pawindu DS untuk segera disusun. Data-data otentik sudah kami berikan kepada tim akademik. Sudah lengkap kami kira, sebagai persiapan menjadi pahlawan nasional, “ kata Suplain.

Ditambahkan Arham Siradjudin, pada kesempatan itu mengatakan, agar Pemkab dan tim akademik selalu berkoordinasi dengan pihak keluarga untuk melengkapi apa saja yang dibutuhkan oleh tim akademik sebagai penyusun.

Suplain juga mengingatkan, sebelum ini ada anggota DPD RI yang sudah mendekati pihak keluarga untuk membuat dan menyusun buku tentang kisah perjuangan Haji Joto Dg Pawindu DS, tetapi belakangan tidak terdengar lagi.

“ Padahal anggota DPD RI itu pertama-tama sangat menggebu-gebu. Bahkan kami dari pihak keluarga juga beberapa kali menggelar rapat, dan juga mengundang masyarakat menjelaskan rencana penyusunan buku kepahlawanan ini. Tetapi sampai sekarang tidak terwujud. Oleh karena itu, kami meminta agar ada kepastian kepada kami keluarga untuk terbitnya buku ini, “ tegas Suplain, yang diamini oleh Arham.

Sementara, Kades Pewunu Ismet Zanir Dg Pawindu, juga menegaskan pihaknya selaku Pemerintah Desa sangat berharap buku yang difasilitasi oleh Pemkab Sigi bersama dengan LKP2D Kabupaten Sigi bisa terwujud.

“ Kami dari Pemerintah Desa Pewunu, sangat berharap buku sejarah kepahlawanan ini bisa diterbitkan, “ tegasnya.

Demikian pula yang disampaikan anggota DPRD Sigi, Mohamad Umar, mengingatkan kembali kepada Pemkab Sigi, agar memperhatikan juga makam dan rumah Haji Joto Dg Pawindu, mungkin bisa disiapkan anggaran pemugarannya setelah rusak berat pasca bencana gempa bumi 28 September 2018 yang lalu. Agar dijadikan sebagai cagar budaya Pemkab Sigi.

“ Tolong yah diperhatikan makam dan rumah peninggalan kakek kami Haji Joto Daeng Pawindu DS. Kami siap di DPRD Kabupaten Sigi untuk membahasnya bersama Pemerintah Kabupaten untuk membackup anggaran renovasi dan perbaikan rumah beliau, “ kata Umar.(mch)

Latest article

More articles

WeCreativez WhatsApp Support
Silahkan hubungi kami disini kami akan melayani anda 24 Jam!!