PALU – Seorang penginjil, pendeta, dan penulis Kristen Kanada, pendiri World Impact Ministries, sebuah organisasi Kristen internasional dengan jangkauan di lebih dari 100 negara Peter Youngren memberikan penjelasan terkait pelaksanaan Festival Persahabatan yang akan digelar di Kota Palu, 31 Januari hingga 2 Februari 2025.
Kepada sejumlah wartawan usai kegiatan silaturahmi bersama sejumlah tokoh lintas agama, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulteng dan Kota Palu di Hotel Aston Palu, Rabu malam (30/1/2025) mengungkapkan, dia sudah mendengar ada pihak yang memprotes pelaksanaan Festival Persahabatan yang akan dilaksanakan di Kota Palu dan hal itu merupakan hak dari pihak yang memprotes dan itu bagian dari demokrasi.
“Bagi mereka yang melakukan protes kepada saya, saya yakin mereka orang-orang baik dan saya juga yakin yang mereka lakukan adalah tulus. Karena berdasarkan dengan keyakinan mereka,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Peter Youngren mengatakan, mungkin karena yang melakukan protes belum begitu mengenalnya dan kemungkinan mereka membandingkannya dengan pendeta-pendeta mereka dengar.
“Karena saya sendiri tidak pernah menganggap satu agama lebih baik daripada agama lainnya. Bukan hanya di Palu, dimanapun di belahan dunia manapun dan saya tidak ada merasa benci ataupun merasa sakit hati dengan siapapun yang menolak saya,” katanya.
Senada dengan itu, ketua panitia Festival Persahabatan Pendeta Yewin Chandra. M.Th mengatakan, kegiatan Festival Persahabatan bukan hanya sebuah perayaan tetapi menjadi momentum untuk saling mempererat tali persaudaraan antar sesama. Melalui Festival Persahabatan dapat memperkuat nilai-nilai kebersamaan.
“Kami berterima kasih kepada berbagai pihak yang sudah mendukung kegiatan ini. Termasuk dengan pihak yang berbeda pendapat dan hal itu kami hargai sebagai dalam ragam demokrasi Pancasila yang harus saling menghormati dan menghargai,” jelasnya.
Ditambahkannya, seperti tujuan awal kegiatan Festival Persahabatan khusus dibuat untuk umat Kristen, hanya saja ada salah pemahaman untuk itu sebagai panitia pelaksana menyampaikan permohonan maaf. Namun tidak ada maksud sekalipun untuk menyakiti perasaan pihak lain dan tetap menghargai apa yang menjadi harapan mereka.
“Kami tetap menyerahkan kepada aturan hukum yang berlaku di Indonesia yang taat terhadap aturan yang ada. Dengan adanya kerjasama sama dengan semua pihak semoga kegiatan Festival Persahabatan yang dilaksanakan di Kota Palu bisa berjalan dengan baik,” pungkasnya. (ron)
