PALU – Keberadaan musisi lokal Sulawesi Tengah perlu mendapat dukungan berbagai pihak agar tetap eksis. Hal itu coba dilakukan oleh 168 House dengan memberi wadah bagi para musisi lokal Sulawesi Tengah.
Salah satunya menyiapkan tempat bagi penyanyi maupun band lokal Kota Palu, untuk menampilkan karya terbaiknya. Tidak hanya itu, 168 House bersama Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Sulawesi Tengah, lewat Project yang diberinama Kemistri (Kekerabatan Ekosistem Musik dan Industri) ingin memberikan penghargaan lebih bagi para musisi lokal ini lewat mini konser di 168 House.
Sebagai pembuka project ini, grup band lokal Kota Palu The Mangge dipilih untuk tampil menyuguhkan performa terbaik bagi penikmat musik maupun pengunjung 168 House. Mini Konser The Mangge ini bakal digelar 20 Mei 2024 mendatang di 168 House.
“Open Gate pukul 19.00 wita. Dan harga tiket masuknya dipesan secara online di website The Mangge, Seharga Rp75 ribu dan jika on the spot atau di lokasi seharga Rp100 ribu. Ini sudah include dengan soft drink,” ucap Riyan Panintjo, salah satu personel The Mangge.
Band lokal dengan single andalannya ‘Temponamo’ ini, bakal membawakan 15 lagu, yang setengahnya adalah lagu-lagi ciptaan The Mangge. The Mangge yang terdiri dari Rezha Respati, Riyan Panintjo, Rinaldi Imaji, Kristian, Sisca Dama (vocal) dan Syeren Bawias (vocal) merupakan musisi-musisi asli Kota Palu.
Sementara itu, Owner 168 House, Asrul Natsir saat Konfrensi Pers Mini Konser 168 House Survival The Mangge, mengungkapkan, bahwa apa yang diberikan 168 House ini merupakan bentuk dukungan penuh 168 House kepada para musisi-musisi lokal. Project ini kata Asrul, bermula dari perbincangan bersama teman-teman Pappri terkait bagaimana menggairahkan ekosistem musik khususnya para musisi lokal memiliki wadah khusus untuk menampilkan karyanya namun di sisi lain juga memberikan keuntungan bagi mereka.
“Kebetulan kami punya fasilitas, maka saya sampaikan kepada teman-teman Papri kita siap dukung, dan silahkan pakai tempat kami, agar teman-teman musisi bisa hidup dari karya mereka,” diucapkan Asrul.
Penjualan tiket sendiri kata Asrul, diserahkan penuh kepada para musisi lewat Kemistri. 168 House sendiri, hanya mendapat sedikit saja keuntungan dari penjualan soft drink yang include dalam tiket tersebut maupun sewa tempat.
“Fasilitas kami berikan maksimal, ada sofa, video tron dan sound sistem yang bisa difungsikan sehingga penampilan teman-teman juga maksimal.
Sementara itu, Ketua PAPPRI Sulteng, Adi Tangkilisan menyampaikan, bahwa project Kemistri ini menjadi jembata bagi para musisi-musisi lokal yang ingin karyanya ditampilkan dan mendapat nilai tambah dari karya tersebut. Adapun syarat bisa tampil nantinya di 168 Survival yang bakal rutin digelar di 168 House setiap hari Senin itu, minimal bisa membawakan 7-8 lagu karya sendiri.
“Jadi kalau konsernya dua jam dan membawakan limabelas lagu, minimal tujuh atau delapan lagunya karya mereka sendiri,” sebut Adi.
Dalam Konfrensi Pers Mini Konser 168 House Survival The Mangge, turut hadir pihak Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, yang diwakili dari Bidang Ekonomi Kreatif, Max William Baginda menyambut baik, project Kemistri ini. Dinas Pariwisata, yang didalamnya juga terdapat fungsi pembinaan Ekonomi Kreatif yang di dalamnya juga terdapat para seniman musisi, sangat mendukung pengembangan ekosistem musik di Kota Palu khususnya yang melibatkan musisi lokal.
“Kami dari Dinas Pariwisata sendiri dalam sejumlah event-event lokal maupun nasional yang digelar di Sulawesi Tengah, selalu meminta agar musisi lokal dilibatkan. Walaupun ketika event itu ada musisi ibukota yang hadir. Kami juga beberapa tahun terakhir terus membantu para musisi mematenkan karya-karya lagunya,” tandas Max. (agg)
