PALU – Secara nasional luas perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2022 adalah sekitar 15,4 juta Ha yang mampu menghasilkan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebesar 47 juta ton. Pada perkebunan kelapa sawit, biaya terbesar yang dibutuhkan agar tanaman sawit tumbuh dengan baik dan subur serta berbuah baik adalah pupuk.
Demikian yang disampaikan Kepala SBRC IPB University, Prof. Dr. Erliza Hambali saat menggelar sosialisasi “Karbonisasi Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Pemanfaatannya sebagai Pupuk Organik untuk Substitusi Pupuk Kimia pada Perkebunan Kelapa Sawit” di Kota Palu, Senin (15/7).
Menurut Dr Erliza biaya pemupakan memakan sekitar 80 persen dari keseluruhan biaya operasional perkebunan tersebut. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya-upaya untuk menurunkan biaya pemupukan tersebut.
Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk menurunkan biaya pemupukan tersebut adalah dengan pemanfaatan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai bahan soil conditioner melalui proses karbonisasi.
“Penambahan soil conditioner tersebut dapat meningkatkan kesuburan lahan perkebunan sawit dan meningkatkan efisiensi pemupukan di perkebunan sawit,” bebernya.
Pemanfaatan TKKS secara komersial saat ini masih sangat terbatas, diantaranya untuk pupuk kompos, bahan bakar padat dan lainnya.
Sebelumnya kegiatan sosilisasi ini juga pernah digelar pada tahun 2023 Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi (SBRC) IPB dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) telah menyelenggarakan di 3 kota yaitu Pekanbaru, Medan dan Palangkaraya. Sementara itu, kegiatan sosialisasi yang gigelar di Sulteng ini merupakan hasil kerjsama dengan Universitas Tadulako (Untad).
Kepada awak media, Prof. Dr. Erliza Hambali juga mengatakan dipilihnya Sulteng untuk menjadi target sosialisasi karena dinilai wilayah Sulteng termasuk salah satu penghasil sawit terbesar yang ada di Indonesia.
“Nah ini termasuk 10 wilayah yang terbesar provinsi yang mempunyai sawit. Biaya tersebsar di kelapa sawit itu adalah biaya pupuk. Nah pupuk itu kadang-kadang haraganya naik dan langka. Sementara pendapatan petani tidak naik. Untuk itu ini penting kami sosialisasikan,” ujarnya.
Menurutnya dengan pemafaatan TKKS ini para petani sawit bisa menururnkan biaya pemumukan hingga 20 persen. Pantauan media ini, dalam kegiatan sosialisasi tersebut diikuti sejumlah petani sawit dan perwakilan dari beberapa perusahaan kelapa sawit yang berdimisili di Suteng. (win).
