RADAR PALU – PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) tidak hanya berfokus pada keuntungan bisnis, tetapi juga berkomitmen kuat dalam mendukung Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) secara berkelanjutan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif sosial yang telah dijalankan di sejumlah desa di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Tercatat sejak tahun 2015 hingga 2024, PT Vale telah mengalokasikan dana sebesar Rp67 miliar untuk mendukung berbagai program sosial di desa-desa yang menjadi wilayah pemberdayaan, termasuk di Kecamatan Bungku Timur, Kecamatan Bahodopi, dan di tingkat Kabupaten Morowali.
Adapun PPM tersebut meliputi pembangunan infrastruktur di bidang pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial, serta pengembangan sektor pertanian, khususnya pertanian organik.
Salah satu program unggulan PPM adalah Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) yang mulai diimplementasikan sejak tahun 2022. Program ini mengusung metode System of Rice Intensification (SRI) Organik, yang awalnya menyasar pertanian padi organik dan kemudian berkembang ke komoditas lain seperti sayuran dan tanaman herbal organik.
Head of Bahodopi Project IGP Morowali, Wafir, menjelaskan bahwa pada tahap awal implementasi di tahun 2022, terdapat 12 petani dari empat desa binaan Desa Kolono, Ululere, Bahomoahi, dan Bahomotefe dengan total lahan garapan seluas 1,2 hektare. Kini, jumlah tersebut telah meningkat menjadi 90 petani dari 13 desa, dengan 25 di antaranya merupakan petani padi yang mengelola lahan sawah organik seluas sekitar 6,8 hektare. Produksi panen padi organik bahkan telah mencapai rekor 17,6 ribu kilogram.
Tak hanya itu, terdapat pula 25 petani sayuran dan 40 petani herbal dari unsur Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) desa. Total panen sayur organik selama tahun 2023 mencapai 78 kilogram.
“Program kami tidak hanya mencakup pendampingan teknis dan peningkatan kapasitas, tetapi juga mencakup bantuan infrastruktur, sarana-prasarana, serta fasilitasi sertifikasi organik. Saat ini, 50 persen dari lahan sawah organik binaan kami telah memperoleh sertifikasi organik dari lembaga INOFICE,” ungkap Wafir.
Gandeng INOFICE untuk Sertifikasi Organik
PT Vale menggandeng INOFICE, lembaga sertifikasi yang telah diakui oleh Otoritas Kompeten Pangan Organik (OKPO) Kementerian Pertanian RI sejak 2007 dan terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) sejak 2008 (nomor: LSPO-003-IDN), untuk mendampingi petani memperoleh sertifikasi organik.
Menurut Wafir, penerapan pertanian organik juga berdampak signifikan dalam efisiensi biaya. Para petani tidak lagi bergantung pada pupuk kimia karena telah dibekali keterampilan membuat kompos dan mikroorganisme lokal (MOL) sendiri. Bahan-bahan yang digunakan pun tersedia melimpah di sekitar, seperti kotoran ternak, sisa makanan, dedaunan, dan batang pisang.
Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan pendapatan petani hingga dua kali lipat dibandingkan dengan metode pertanian konvensional. PT Vale juga rutin menyediakan alat-alat pertanian seperti cultivator, rumah kompos, peralatan penyiangan, hingga perlengkapan pengemasan hasil panen.
“Kami juga membangun sekolah lapang sebagai pusat pembelajaran praktik pertanian organik. Sekolah ini terbuka untuk semua pihak yang ingin belajar dan memahami konsep pertanian berkelanjutan,” tambahnya.
Ke depan, PT Vale menargetkan peningkatan jumlah petani organik hingga 50 persen pada tahun 2025, mencakup seluruh desa binaan di wilayah Morowali. Selain itu, perusahaan juga tengah mendorong perluasan pasar hasil pertanian organik ke berbagai minimarket dan supermarket.
“Pendampingan dari PT Vale tidak berhenti pada proses penanaman, namun juga berlanjut hingga ke tahap pemasaran. Harapannya, produk hasil program PPM desa dapat memiliki daya saing di pasar yang lebih luas,” tutup Wafir.(ron)
