PALU – Keberhasilan Agroforestry dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) merupakan tanggungjawab bersama, termasuk masyarakat atau kelompok tani hutan (KTH) di dalamnya. Forest Programme III Sulawesi dibawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Pendanaan Pemerintah Jerman, yang turut difasilitasi Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Palu-Poso, juga terus mendorong keberlangsungan Agroforestry dan RHL.
Capaian yang telah dilakukan dalam Forest Programe III Sulawesi ini pun disampaikan dalam Talkshow dengan Tema “Agroforestry dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan”, yang digelar Senin (26/8) kemarin di Ballroom salah satu Hotel, bilangan Jalan Basuki Rahmat, Kota Palu.
Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Palu-Poso, Encum SP MSi kepada wartawan, menyampaikan, lewat talkshow ini pula pihaknya ingin mengajak seluruh kalangan, terutama KTH yang sudah membuat output dari program ini bisa terus berlanjut. Seperti KTH yang telah memanfaatkan lahan dengan cara agroforestry, yakni memadukan tanaman hutan dan juga pertanian di satu lahan, terkait dengan pemasaran hasil produksinya.
“Seperti komoditas kayu-kayuan yang bisa dimanfaatkan, kemudian pertanian seperti kopi, kemiri, durian memang tidak susah dipasarkan, tapi bagiamana hasilya bisa terus berlanjut dan bantu pendapatan dan kesejahteraan warga juga meningkat serta berikan dampak bagi yang lain,” kata Encum.
Tidak hanya dari segi ekonomi saja, sebut Encum, program ini juga menitik beratkan pula dampak ekologi yang dihasilkan, berupa tutupan lahan pula yang meningkat. Juga terciptanya sosial budaya masyarakatdengan bergotong royong lewat KTH.
“Sehingga semoboyan KLHK yakni Hutan Lestari, Rakyat Sejahtera, bisa tercapai secara perlahan dan juga berkesinambungan,” sebut Kepala Balai.
Adapun target dari pengembagan agroforestry di Poso dan Sigi dalam proyek ini adalah seluas 750 hektare dengan 40 desa dan empat jenis tanaman asli. Hingga 2023, agroforestry dan RHL telah dikembangkan di 38 desa melibatkan 58 kelompok tani dan lebih dari 20 jenis tanaman dengan total lus 1.115 hektar.
Tiga pembicara dalam talk show ini, melibatkan para akademisi serta konsultan Forest Programme III Sulawesi. Di antaranya, Dr Ir Abdul Rauf MSi, Prof Dr Ir Naharuddin SPd MSi serta Francis Harum. Abdul Rauf dalam paparannya menyinggung, bahwa dalam program ini yang diposisikan sebagai pelaku utamanya yaknni masyarakat, agar masyarakat bisa mandiri dan berperan untuk menjaga lingkungan.
Meski masyarakat diposisikan sebagai pelaku terdepan dalam kegiatan ini, untuk keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan, kata Prof Naharuddin merupakan tanggungjawab bersama. Tidak hanya BPDAS, namun seluruh stakeholder. Sementara itu, Francis Harum menyebut, bahwa program ini sudah berjalan sejak tahun 2017 dan tahun ini memasuki tahun ke tujuh, dan dari pengamatannya sejumlah KTH dinilai berhasil dalam memperbaiki perekonomian termasuk memperbaiki lahan yang sempat rusak, baik akibat bencana maupun perambahan hutan. (agg)
