LITERASI KEUANGANS SYARIAH: Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Tengah, Rony Hartawan (keempat dari kanan) berfoto bersama dalam kegiatan peningkatan Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah pada Jumat (11/4/2025). //FOTO: RINA ABDUL HALIK//

PALU – Tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia masih berada di angka 39.11 persen. Angka ini masih jauh jauh lebih rendah dibandingkan literasi keuangan konvensional yang mencapai 65.43 persen. Hal ini berdasrkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia.

Berangkat dari keprihatinan itu Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tengah bantu tingkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah. Yakni dengan menggelar kegiatan peningkatan Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah, dengan tema “Peningkatan Literasi Keuangan Syariah di Sulawesi Tengah guna Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan” di arena Festival Raudhah Alkhairaat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tengah, Rony Hartawan mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan syariah di Sulawesi Tengah. Di mana  masih tergolong rendah, dengan harapan dapat mendorong partisipasi yang lebih besar dalam sektor keuangan syariah dan berkonstribusi dalam pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 yang dilakukan oleh OJK, tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia masih berada di angka 39.11 persen, jauh lebih rendah dibandingkan literasi keuangan konvensional yang mencapai 65.43 persen,” ungkap Rony dalam sambutannya.

Selain itu, inklusi keuangan syariah juga tercatat masih berada diangka 12.82 persen jauh lebih rendah dibandingkan dengan inklusi keuangan konvensional yang mencapai 75.02 persen.  Hal tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan pemahaman yang perlu  segera di cari solusinya. Pasalnya, literasi ekonomi dan keuangan syariah adalah salah satu pilar yang sangat penting, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi  yang inklusif dan berkelanjutan.

Pada kesempatan ini  Rony menuturkan Sulawesi Tengah  memiliki tantangan dalam meningkatkan literasi ekonomi syariah juga cukup besar. Berdasarkan data OJK, tingkat inklusi keuangan syariah di wilayah Indonesia bagian timur masih berada di bawah rata-rata nasional. Padahal, ekonomi syariah memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dengan karakteristik ekonomi lokal yang berbasis sektor riil, seperti pertanian, perikanan, dan UMKM.

“Kami rasa tingkat pemahaman masyarakat khususnya di Sulawesi Tengah terhadap prinsip-prinsip ekonomi dan keuangan syariah masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu dalam kesempitan ini telah hadir bersama kita Murniati Mukhlisin dari Sakinah Finance, Ibu Siti Rochmawati dari DEKS, Bapak Dr. Haerul Anam dari ISEI Sulawesi Tengah dan Bapak Maftukin, owner UMKM Lecker sebagai pengusaha muda Sulawesi Tengah,” ujar Rony.

Dia pun berharap dengan upaya bersama yang dilakukan dalam meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah di Sulawesi Tengah, dapat menciptakan masyarakat yang lebih melek dengan ekonomi syariah, serta mampu memanfaatkan peluang yang ada untuk kesejahteraan bersama.

“Kita semua memiliki peran dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah. Dengan literasi yang baik, kita dapat mendorong pemanfaatan sistem ekonomi syariah secara optimal, tidak hanya sebagai alternatif, tetapi sebagai bagian utama dari ekosistem keuangan yang inklusif,” pungkasnya.

Pada kegiatan tersebut turut hadir Rahmad Mustafa, Asisten 2 Pemerintah Kota Palu mewakili Walikota Palu, Sekjen AlKhairaat, Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Tengah dan para petinggi lainnya serta para pelaku usaha di Sulawesi Tengah dan mahasiswa dari Genbi Sulteng.(cr2)