05 February 2026
23.6 C
Palu

Tumpahan Oli Diduga Milik Kapal GNI Cemari Pantai Tokananaka, Nelayan Tidak Bisa Tangkap Ikan

Must read

-IKLAN-spot_img

MORUT – Pesisir Pantai Desa Tokananaka Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara (Morut) tercemar oli yang diduga akibat tumpahan oli dari kapal-kapal yang beroperasi di jetty milik PT. Gunbuster Nickel Industry (GNI).

Berdasarkan video yang beredar di group WhatsApp (WA) tampak tumpahan cairan berminyak dan berwarna hitam pesisir pantai Desa Tokananaka. Warna hitam memenuhi pinggiran pantai yang diduga adalah oli yang terbuang atau dibuang di pantai.

Kepala Desa Tokananaka Asrar Sondeng dihubungi via WA mengatakan, dia dikirimi video dari warganya pesisir pantai ada tumpahan oli yang dicurigai merupakan tumpahan oli dari kapal yang lalu lalang di pesisir pantai desa. “Menurut laporan warga tumpahan oli itu sudah tiga hari,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini ada empat kapal yang berlabu di seputaran Desa Tokananaka. Warga juga bingung siapa yang mau dituduh membuang atau oli bocor sampai ke pesisir laut. “Seandainya kita bisa liat siapa yang batumpah oli kami bisa laporkan. Faktanya ada tumpahan oli di pesisir pantai,” katanya.

Diuraikan Kades Asrar, jarak kapal berlabuh sekitar 1 kilo meter dari pesisir pantai dan ada jetty milik PT GNI yang ada di sekitar pesisir pantai Desa Takonanaka.

Warga berharap ada pihak yang bertanggungjawab, kasihan masyarakat  khususnya nelayan terhalang mencari ikan. Pukat nelayan sudah tercampur oli, dengan kondisi itu nelayan tidak bisa mendapat ikan. “Kalau laut sudah tercemar, ikan apa yang bisa bertahan,” ujarnya.

Tumpahan Oli yang mencemari pesisir pantai Desa Tokananaka Morowali Utara. (TANGKAPAN LAYAR VIDEO)

Dengan adanya lalulalang kapal dan seringnya tumpahan oli di sekitar pesisir pantai Desa Takonanaka yang berakibat pada berkurangnya hasil tangkapan ikan nelayan. “Pada pertemuan awal dengan pihak PT GNI, Kami sudah pernah mengajukan permintaan ke PT GNI, salah satunya warga Desa Takonanaka harus diberi kompensasi Rp 2,5 juta per bulan, tapi tidak realisasi,” bebernya.

Bukan itu saja, rompong-rompong nelayan habis ditabrak kapal-kapal yang diduga kapal yang menuju dan keluar dari jetty milik PT GNI, sampai sekarang tidak ada gantinya. “Kondisi pantai kami sudah tercemar begini, kami tidak tahu harus mengadu kesiapa. Siapa yang bisa memberi solusi pantai di desa kami yang sudah tercemar oli. Nelayan kami juga sudah tidak beroperasi, berdampak pada penurunan pendapatan nelayan akibat kapal yang lalu lalang ditambah lagi laut sudah tercemar,” pungkasnya.

Sementara pihak PT. GNI yang coba dihubungi Radar Sulteng belum memberikan penjelasan. Dihubungi via nomor WA salah satu Humas PT GNI, belum merespons telepon maupun pesan WA. (ron)

Latest article

More articles

WeCreativez WhatsApp Support
Silahkan hubungi kami disini kami akan melayani anda 24 Jam!!