PALU – Tahapan uji kompetensi dan evaluasi kinerja pejabat pimpinan tinggi pratama lingkup Pemprov Sulteng Tengah, sedang berjalan. Namun kesemua proses ini, pada akhirnya bakal diserahkan kepada Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid selaku user dari para pejabat-pejabat tersebut.
Meski tahapan yang disebut juga Job Fit ini masih berlangsung, sejumlah isu terkait siapa-siapa saja pejabat yang bakal diganti mulai berhembus. Menurut sumber di kantor Gubernur Sulawesi Tengah, jabatan-jabatan yang akan mendapat perombakan itu adalah jabatan yang memiliki fungsi pelayanan dasar kepada masyarakat.
Selama hampir dua bulan menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid banyak mendengar sejumlah laporan langsung dari masyarakat terkait beberapa layanan dasar yang dinilai buruk. Beberapa di antaranya, ditindaklanjuti oleh Anwar Hafid dengan menegur pejabat yang dimaksud.
“Dan laporan itu yang jadi catatan beliau (Gubernur), dan yang pernah ditegur yah siap-siap saja, pasti itu yang akan diganti,” ujar sumber.
Dia pun menyampaikan, dalam uji kompetensi dan evaluasi kinerja atau Job Fit ini, ada sejumlah nama pejabat yang dahulu menjadi bawahan Gubernur saat menjabat Bupati Morowali, yang ikut sebagai peserta. Dan menurutnya, kans mereka mendapati jabatan strategis juga sangat kuat, karena dari sisi kinerja sudah diketahui oleh Anwar Hafid.
“Pasti lah orang-orang yang pernah bekerjasama dengan beliau dulu di Morowali, akan terakomodir. Karena kerja mereka juga sudah pak Gub tahu. Tapi beberapa orang ini, sebelum pak Gub menjabat sudah lama pindah ke Pemprov juga,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu Panitia Seleksi (Pansel) Job Fit, Prof Dr H Slamet Riadi Cante, menegaskan, bahwa Gubernur selaku user tidak pernah mengintervensi ataupun menitip nama orang-orang tertentu kepada Pansel. Dalam arahannya, saat membuka Job Fit, kata Slamet Riadi, sudah sangat jelas bahwa Gubernur menyampaikan kepada seluruh pejabat yang ikut Job Fit, tidak perlu terlalu khawatir.
“Para peserta hanya diminta memastikan diri dan meyakinkan mampu melaksanakan sembilan program yang dibuat Gubernur,” sebut Prof Slamet, dihubungi Senin (21/4) kemarin.
Mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Tadulako memaparkan, bahwa adapun indikator penilaian Pansel dalam bekerja, dimulai dengan hasil assessment, kemudian penulisan makalah dan hasil wawancara. Setiap tahapan Job Fit, kata dia, memiliki bobot penilaian yang bervariasi dan nantinya akan diakumulasi menjadi penilaian akhir.
“Penilaian akhir ini yang kemudian disampaikan kepada Gubernur untuk menjadi pertimbangan,” sebutnya.
Lebih jauh Prof Slamet menegaskan, bahwa dalam penilaian akhir nanti, bila ada peserta Job Fit merasa tidak puas dengan hasil penilaian, bisa saja mengecek hasilnya di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Sulawesi Tengah. “Tentunya, Pansel akan lebih mengedepankan prinsip transparansi,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, bahwa sebanyak 50 pejabat mengikuti uji kompetensi dan evaluasi kinerja (job fit) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Peserta terdiri dari 45 pejabat pimpinan tinggi pratama dari lingkup Pemerintah Provinsi, serta 5 orang dari kabupaten dan kota, masing-masing berasal dari Kabupaten Morowali 2 orang, Kabupaten Sigi 1 orang, dan Kota Palu 2 orang.
Pelaksanaan job fit ini dipimpin oleh panitia seleksi yang diketuai oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Dra. Novalina, MM. Panitia juga melibatkan empat anggota lainnya, yaitu Ahmad Husin Tambunan dari Itjen Kemendagri, serta tiga akademisi dari Universitas Tadulako, yakni Prof Dr Djayani Nurdin, Prof Dr H Slamet Riadi Cante, dan Dr Surahman. (agg)
