04 February 2026
28.6 C
Palu

SMPN Madani Ciptakan Alat Pencacah Sampah untuk Ubah Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos

Must read

-IKLAN-spot_img

PALU  – Sampah sering dianggap sebagai ancaman bagi lingkungan. Namun, jika diolah dengan baik, sampah justru dapat menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.

Hal ini dibuktikan oleh SMPN Model Terpadu Madani Palu bersama para siswanya. Menyadari banyaknya sampah di lingkungan sekolah, mereka mengambil inisiatif untuk memanfaatkannya dengan cara kreatif.

Para siswa dan pihak sekolah menciptakan alat pencacah dan penggilingan sampah untuk mengolah limbah sampah organik menjadi pupuk organik kompos.

Inovasi ini tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar dengan menghasilkan produk yang berguna.

Pantauan media ini, para pihak sekolah dan para siswa berhasil menanam sayur-mayur dan buah-buahan di sekitar sekolah dengan menggunakan pupuk kompos yang mereka ciptakan sendiri.

Kepala SMPN Model Terpadu Madani Supriady M Djafar mengungkapkan, pihaknya berupaya melakukan penanganan terhadap sampah organik dan non-organik.

“Untuk sampah organik itu awalnya anak-anak kesulitan karena harus mensuir-suir daunnya. Akhirnya ada teknisi yang bantu kami buat mesin pencacah dengan menggunakan barang bekas juga,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, Jumat (14/2).

Sementara itu, untuk sampah non organik sendiri kata dia menjadi masalah utama. Sehingga pihak sekolah terus memberikan edukasi kepada siswa-siswi seperti apa dampak penumpukan sampah plastik.

Untuk mengubah sampah plastik menjadi barang yang bernilai, Supriady mengaku telah bekerjasama dengan pihak Bank Sampah Kelurahan Talise.

“Memang kita tidak memikirkan uangnya, yang penting sampah itu kita bersihkan dan beberapa kita olah dan dibuatkan ecobreak seperti hias-hiasan bunga dan tempat duduk. Itu yang terakhir kita buatkan paving,” ungkapnya.

Sementara itu, Pembina Komposter SMPN Model Terpadu Madani, Asri, S,Pd mengatakan sebelum menggunakan alat pencacah ini produksi untuk pembuatan pupuk kompos memakan waktu hingga 3 bulan. Namun dengan adanya mesin pencacah sampah dan penggilingan itu pembuatannya lebih efisien hanya menggunakan waktu selama 1 bulan.

“Jadi pupuk yang kita hasilkan ini juga kita gunakan untuk tanaman di sekitar lingkungan sekolah,” ujarnya.

Dengan bisa mengolah sampah menjadi bernilai tinggi, Nur Nafisatul mengaku sangat bangga bisa mengurangi tumpukan sampah di sekolahnya. Apalagi kata dia sampah yang dulunya tidak bernilai kini bisa bernilai ditangan para siswa-siswi disana.

“Saya berharap teman-teman di sekolah bisa bahu-membahu meminimalisirkan masalah sampah. Baik itu sampah daun maupuan plastik. Karena kalau kita liat lingkungan sekolah bersih itu dampaknya ke kita juga,” pesannya.(win)

Latest article

More articles

WeCreativez WhatsApp Support
Silahkan hubungi kami disini kami akan melayani anda 24 Jam!!